Jumat, 15 Juni 2012

Diposkan oleh Abdul Kholikin

Dalam tradisi Arab dikenal adanya tradisi dalam menyusun bait-bait Sya’ir yang bernilai sastra tinggi dan bisa dinyanyikan oleh pembacanya. Tradisi sastra ini disebut dengan Nadham, dan ilmu yang mempelajari jenis sastra Arab ini disebut dengan ilmu ‘Arudl. Dalam perkembangan sejarah dapat disaksikan bahwa para penyebar Islam di Indonesia adalah terdiri dari para saudagar dan ulama yang bersetting tradisi Arab. Sehingga, dalam perkembangannya, pesantren sebagai salah satu basis penyebaran Islam di Indonesia pun tidak dapat terlepas dari tradisi Arab, khususnya dalam pengembangan ilmu-ilmu keagamaan. Di tangan para ulama dan santri pesantren inilah, sastra Arab dengan berbagai cabang ilmunya jamak dipelajari dan dikembangkan, baik sebagai pengetahuan maupun dalam kapasitasnya sebagai ilmu alat untuk memahami al-Qur’an, as-Sunnah, dan kitab-kitab kuning yang notabene berbahasa Arab, sebagai sumber pengetahuan utama di dalam Islam. Kyai Hamid dan NadhamKyai Hamid adalah salah satu dari sekian banyak ulama yang menggeluti sastra Arab, khususnya ilmu ‘Arudl, untuk kedua tujuan di atas. Ilmu Arudl ini menurut sejarah, beliau dapatkan dari guru beliau selama mondok di Pondok Termas, Jawa Tengah, yang memang terkenal dengan tradisi keilmuan salafnya yang tinggi.Kecintaan beliau yang tinggi terhadap ilmu ‘Arudl ini –seperti dituturkan salah satu santri beliau-, juga ditampakkan ketika di Pondok Termas dulu, tiap kali mendapatkan ilmu baru setelah diterangkan oleh gurunya, beliau di guthe’an (bilik santri) langsung merangkumnya dalam bentuk nadham. Dan tradisi menulis nadham ini juga sering beliau guratkan dalam setiap saat dengan menulis nadham-nadham, baik untuk orang lain maupun untuk pribadi (seperti menulis agenda peribadi). Nadham Sulam TawfiqBuku Nadham sulam Taufiq ini adalah salah satu dari karya Kyai Hamid, yang mencerminkan penguasaan beliau terhadap ilmu ‘Arudl secara matang. Kitab ini sebenarnya tidak pernah dipublikasikan oleh beliau sendiri, tetapi justru merupakan karya wijdan (temuan), yang ditemukan oleh putra beliau, Kyai Idris Hamid, setelah beliau wafat. Mungkin karena Kyai Hamid –meminjam istilah Gus Mus (Musthofa Bisri)- adalah wali yang bukan wali ‘tiban’, artinya benar-benar waliyullah secara mu’tamad-, sehingga dengan mempublikasikan kitab ini ketika semasa hidupnya, beliau takut akan datangnya sifat riya’ di hati beliau. Atau mungkin, karena karya ini hanyalah sekedar ‘karya iseng’ beliau dalam menyalurkan hobi dan kecintaan beliau dalam menyusun Nadham.Resensi Kitab Nadham Sulam TaufiqBuku ini dapat diibaratkan sebagai karya talkhis (rangkuman) dan juga Syarah (penjelasan) atas kitab Sulam Taufiq, yang dikemas dalam bentuk nadham (bait-bait Sya’ir Arab). Keunikan kitab ini adalah karena ia bukanlah buku yang satu disiplin ilmu seperti pada umumnya kita jumpai dalam kitab-kitab kuning klasik. Artinya, walaupun kitab ini lebih fokus pada pembahasan fikih, namun ia juga membahas tentang aqidah (tauhid) dan akhlak. Sama seperti kitab asalnya, Sulam Taufiq, kitab ini mengandung beberapa bab dan fasal. Pada bagian pertama kitab ini membahas tentang aqidah yang terdiri dari prinsip-prinsip bertauhid menurut ahlus Sunnah wal jamaa’h, sifat-sifat Allah, kewajiban dan larangan dalam tauhid, serta hal-hal yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kemurtadan. Pada bagian kedua, buku ini membahas tentang fikih menurut madhab Syafi’i. Sama seperti kitab-kitab fikih madhab Syafi’I lainnya, buku ini diawali pembahasan mengenai thaharah, cara-caranya serta bentuk-bentuknya. Dilanjutkan pada pembahasan fikih Ibadah lainnya yang meliputi shalat, zakat, puasa dan juga haji.Pada bagian ketiga, buku ini membahas sedikit mengenai fikih munakahah. Dilanjutkan pada pembahasan fikih mu’amalah yang tidak membahas secara komprehensip, sebab kitab ini hanya membahas tentang bab jual beli saja.Pada bagian terakhir, kitab ini membahas tentang akhlakul karimah dengan berbagai aspek-aspeknya. Baik akhlak zhahiriyah, seperti tentang maksiat lisan, telinga, mata, kaki, badan, kemaluan dll, juga tentang akhlak batin (hati), seperti sabar, syukur, tawadlu’, ridlo, dll, dan bagaimana menghindari riya’, takabbur, dll. Sebelum pembahasan, kitab ini juga disertai penceritaan sekilas tentang riwayat dan perjalanan hidup dari Kyai Hamid. Agar para pembaca dapat mengambil suri tauladan dari manaqib Kyai Hamid, sang Waliyullah yang telah berhasil mengguritakan akhlakul karimah di hati para santri dan orang-orang yang mengenalnya. Sehingga, kitab ini tidak hanya dimaknai sebagai karya intelektual dari seorang hamba Allah yang bernama Abdul Mu’thi pada masa kecilnya. Tapi juga dimaknai sebagai pesan moral dan pelajaran akhlak yang bersifat universal bagi pembacanya, agar dapat diaplikasikan di dalam perilaku sehari-hari. Hal menarik lainnya dalam kitab ini adalah susunan bait-baitnya yang mudah, sempurna dan tanpa mengurangi dari pesan utama dalam bentuk matannya (kitab Sulam Taufiq). Sehingga wajar, jika KH. M.A. Sahal Mahfud (Rois Syuryah PBNU) dalam pengantarnya di buku ini mengungkapkan pesan berikut dalam bentuk bait Sya’ir:Bait-bainya seperti permata, yang tersusun dengan tatakan yang indah.Bait-baitnya seperti mutiara, yang terkumpul secara menarik Saya tidak menemukan yang menyamainya, karena susunannya yang bisa membawa bekas (dalam hati)Meminumnya (mengambil pelajarannya) dapat menghilangkan dahaga, dan sinarnya sangat terpancar.Saya tidak menemukan kekurangan di dalamnya, justru ia dapat (dijadikan pelajaran yang) ditaati. Saya mengharap ia akan membawa manfaat, dengan pesan-pesannya yang dapat kita dengarkan.

0 komentar:

Poskan Komentar

pesan2

Primbon